Saturday, December 16, 2006

hati yang terbelah dua

Seminggu belakangan ini, pening betul mendengarkan orang-orang membicarakan poligami. Serasa gak ada habisnya. Banyak banget yang histeris menolak. Tidak sedikit juga yang setuju. Dan sebagian lagi "abstain" karena dilema agama.
Seminggu belakangan ini juga gue selalu pulang malam. Setiap kali sampai di rumah, pemandangannya adalah istri yang tertidur kecapekan nunggu. Orang terakhir yang gue baca sms-nya "pulang jam berapa paqz?" adalah orang yang sama yang selalu membuka pagi dengan "diminum kopinya paqz".
Beberapa tahun usia perkawinan, ada saja kejutan bahwa kita dan pasangan semakin tidak sempurna. Selalu ada dorongan yang semakin kuat untuk mencari kata "the one" pada orang lain. Orang yang mungkin memberi lebih baik atau padanya kita bisa lebih baik.
Ironis, memang.
Tanpa bermaksud melarikan diri dari keberpihakan pada polemik poligami, yang gue paling sesalkan adalah kenapa ide itu lahir? Tidak setuju dan tidak menikah lagi jauh lebih gampang dari konsekuensinya yaitu komitmen. Dan kata komitmen, menyeret kita lebih jauh lagi.
Kita yang kepingin disebut komit, harus rela meniadakan pilihan. Kita harus rela bosan. Kita harus bersusah payah memotivasi diri sendiri sementara imajinasi sering menggoda hal yang sebaliknya.
Wiken ini, sama aja seperti sebelumnya, gue menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, nonton film, makan di luar, dengan orang yang sama, dengan obrolan yang sama. Istimewanya? gak ada. Kalaupun ada yang istimewa, itu karena gue menemukan detail baru bahwa istri gue ternyata tahu banyak soal film-film baru yang akan dirilis tahun depan.
Ya, gue sadar bahwa kita seringkali gak sabar. Di saat bosan, kita sering menginginkan perubahan total. Padahal, menemukan detail-detail baru juga sebuah perubahan. Kalaupun kita mendapatkan sesuatu yang baru, nantinya akan bosan lagi.
Malam tadi, gue peluk istri gue sampai tertidur. Katanya bau ketek gue khas (halah...maksudnya bau kali). Sebelumnya kita membicarakan soal poligami dari dua sisi. Gua ngaku, beruntung banget bahwa poligami bukan wajib hukumnya, soalnya gue bukan orang yang taat waktu. Dia bersyukur karena suaminya nggak ganteng dan gak kaya sehingga kemungkinannya jadi sangat kecil (kurang ajar!).
Sebelum mata gue bener2 merem, di film Wyatt Earp yang kita tonton, adegannya bukan ciuman tapi khayalan, "gua bayangin saat usia 60 nanti, saat gua bangun tidur orang yang ada di samping gue adalah elo...". Selanjutnya gelap.
Paginya, "diminum kopinya paqz..."

Saturday, August 19, 2006

rumah kita, sendiri...

Agustus tanggal 19, 21:00

Kayak biasanya 17an di kampung, seru, banyak pertandingan dan berakhir dengan makan-makan ala asterix (tanpa babi panggang tapi lontong sayur). Hadiah demi hadiah dibagikan. Anak-anak kecil yang dicoreng moreng ibu atau mbak baby-sitternya maju dengan gagah menari lagu2 didi kempot (kok jadi jawa sentris begini, dulu perasaan lagunya guruh atau gombloh minimal?). Sampai tiba juga giliran pemuda-pemudi yang berseragam putih dan satu gitar akustik bersiap berpadu suara.

Ya, ya, ya... predictable, kalo gak gombloh lagi, iwan fals atau cokelat dengan "bendera"nya. Tapi mak blaar juga, tiba-tiba semua jadi sepi. Pelan dan fals, yang kedengeran lirik "Hanya bilik bambu/pada rumah kita/tanpa hiasan, tanpa lukisan/beratap jerami, beralaskan tanah/namun semua itu milik kita...dst". Cuma sebaris lagu, tapi 50 orang kepala keluarga sontak speechless. Rokok-rokok dihisap lebih dalam, kaki-kaki kecil direngkuh, dipangku dan kepala botak dielus emaknya masing-masing.

Kok jadi sendu begini? Mungkin karena kita semua ngerasa sama, sama-sama tinggal di rumah 36 meter persegi. Gak ada yang punya kolam renang, tapi juga gak ada yang buka tambal ban. Tapi kita bisa cekikikan sewaktu bapak-bapak disuruh maju lomba joget. Atau ketika salah seorang anak dengan innocent-nya nyolong piala di panggung terus dibawa lari.

Malam itu, gue ngerasa lagunya ahmad albar bahkan jauh lebih khidmat daripada Indonesia Raya yang diaransemen ulang addie ms di australia. Mungkin karena kita semua menyanyikannya dengan kesadaran. Sementara peserta upacara bendera akhir-akhir ini menyanyikannya karena kewajiban.

Selamat ulang tahun Indonesia. Make a wish-lah, semoga permintaan kita sama.

Sunday, January 01, 2006

Tahun Baru yang Kasat Mata

Belum pernah ngalamin tahun baru yang kayak diceritain orang.
Ada yang memilih pesta. Ada yang merenung bikin resolusi. Ada juga yang diem aja, nonton tipi yang dibanjiri film2 hollywood.
Gue termasuk yang ngamatin, apa bedanya tanggal 31 ama tanggal 1?
Pagi-pagi, bibi yang biasa bantuin bersih-bersih rumah dateng, tanpa ba-bi-bu, dia kerja, ambil upahnya dan pulang... ck..ck..ck.. pro sekali, jangan-jangan mau siap2 party? husy!
Siangnya, ketiduran, lupa makan siang. Biar nggak cuma ngedumel, dianalisis aja kali ya...
Hmmm, mungkin kita emang makhluk yang rutin, meleset waktunya dikit aja udah guncang. Deadlinelah, gajianlah, bayar tagihanlah... padahal, kalo sholat aja dintar-ntar (ini jelas ngaku salah).
Sorenya cari makan keliling kompleks, waduh! semua orang udah siap2. Lupa kalo tinggal di provinsi Banten, hehehe... masa tiap ada lapangan semua orang pasang musik dang dut keras2, udah siap bakaran ikan ama gitar yang udah distem apik buat kunci a minor, f dan g yang bakal dikocok 2/4.
Malemnya, dua-duaan ama istri nonton ulangan LOTR dan ngebahas efeknya yang najis keren... ketiduran... baru dibangunin pas jam 12. Bukan buat saling mengucapkan selamat tahun baru, tapi disuruh sikat gigi ama sholat isya yang kelupaan.
Jadi, apa bedanya 2005 ama 2006? Nyaris gak ada!
Malemnya, gue baru sadar, mungkin gak berubah itu juga bisa sebuah resolusi ya? Kalau aja itu artinya keep the good ones. Dan bagi gue, hidup yang biasa aja udah cukup baik kok...
Happy New Year everyone...

Friday, December 09, 2005

Performance Appraisal

Bener-bener apes, wiken yang seharusnya diisi dengan aktivitas yang paling menyenangkan di dunia, tidur, harus dipake buat menilai performance appraisal.
Performance???
Maksudnya pose kayak gini?
Hadooohh!!!
Ngakunya sebuah tim, tapi kok ya kerjaannya ngerokok di tangga, makan somay pinggir jalan sambil godain cewek lewat, tembak-tembakan peluru plastik sambil adu kenceng altec lansing.
Apanya yang mau diepreis?
Apa iya kegilaan sama action figure dan komiknya?
Rebellion ala punk?
Ngaduk-ngaduk kaskus buat dapetin password bokep?
Sexy side of sex?
Living on the (straight) edge?
Dream band?
Jual kecap nomor satu?
origami schizophrenic?
Second skin shirt atau the don king alias kompor.
Poor me.
Mau pake indikasi apa? Bisnis yang katanya over billing? Menang award ini itu mulai dari skala kantoran ampe regional asia, pariwara, majelis ini dan departemen itu? adu kreatif berhadiah puluhan jeti?
Gaklah!
Gue ngerasa kok bukan itu ukurannya.
Hmm... apa ya? Oh ya, gue tahu sekarang, ukurannya adalah "kenapa?"
Kenapa gue bisa terus tertawa sepanjang hari.
Kenapa gue selalu bisa keluar dari gencetan deadline.
Kenapa gue selalu bisa berbagi cerita tentang apa aja tanpa harus diadili.
Kenapa gue baru sadar bahwa gue ternyata adalah "kakak" yang paling beruntung karena kehadiran mereka.
Kenapa juga harus ada performance appraisal? Padahal, hidup bukan untuk dinilai, tapi menciptakannya.
Biarlah begitu, ya Bro? Sis? Ok? Let's back to work!!! :-p

Sunday, November 20, 2005

harga diri atau harga nyawa?

Pamulang mendung. Di bengkel motor, niatnya cuma ganti oli, terus tune up, eh merembet jadi ganti ban belakang. Diintip kabel rem udah karatan. Distart, mesin kedengeran berisik, jadinya malah ngebongkar kopling. Waah, bakal lama nih?! Asik memperhatikan lalu lintas, terus bingung ngeliat mobil mau belok kok nanggung ya? Dari belakang suara knalpot meraung minta jalan...telat..Braak!! Tabrakan di depan mata. Antara kaget dan spontan gaya koboi, mencoba membantu. Setelah "menyeret" korban dan sedikit "memerintah" pengemudi untuk minggir, berdiskusilah mereka tentang ganti rugi. Rugi?? Astaga, bangsa kita. Apa yang mereka pikirkan? Korban cuma minta diganti pelek yang penyok serta spakbor yang retak, biarlah sakit dan luka tak usah dipikirkan. Pengemudi mobil memulai harganya dengan Rp 50 ribu. Tak tahu lagi apa keputusan akhirnya, hujan deras membubarkan kerumunan. Menunggu reda, terbersit sedikit pencerahan, pantas saja republik ini dihujani bom. Nyawa memang tidak punya harga.

Saturday, November 05, 2005

bosen

kerja sepanjang taun, capeknya luar biasa. libur seminggu -gak ngapa-ngapain selain nontonin DVD bajakan- ternyata lebih capek lagi. mau jadi apa nih gue? zzzz.... (mimpi jadi kritikus film deh, sok tau aja...)

Friday, November 04, 2005

batik


Baru sekarang gue ngerasa agak jatuh hati ama batik. Biasanya, sebel setengah mati. Batik? Oh no... pasti berhubungan sama undangan kawinan. Harus rapi, wangi, cengar-cengir, basa-basi. Dan rebutan kambing guling. Untunglah batik yang ini beda ceritanya. Ini entry lomba iklan kpk gue bareng bejo (sejelek ini kok bisa masuk final??? Heran!). Ceritanya bukan tentang idenya. Bukan tentang batiknya. Apalagi tentang hadiahnya. Iklan ini menyadarkan gue bahwa orang bisa aja salah menilai. Sesuatu yang yang sering kita buang-buang, kadang nilainya tak terhingga. Dan sms gue di hari sabtu (tanggalnya lupa) untuk menantang bejo ikut lomba iklan kpk, gue hapus. Coretan-coretan awalnya gue ketawain. Kemudian dia datang lagi...Batik? Oh come on... dasar anak grafis! Rupanya gue salah. Salah ama bejo. Salah ama prinsip dasar berpikir bahwa tidak ada ide yang bodoh, yang bodoh adalah yang tidak menelurkan idenya. Gue gak ngucapin selamat ke bejo waktu iklan ini masuk nominasi. Gue minta maaf. Pulang ke rumah, gue baru sadar, batik gue cuman satu, dan selalu itu yang gue pake kondangan. Pantes aja foto kawinan temen-temen gue kayak ada template-nya, hehehe...